aku telah menamatkan
sekolah MALAKA Pondok kopi, Tentu suasana haru menyelimuti perpisahan sekolah
bersama teman-teman saya seperjuang di MALAKA Pondok kopi,, salah satunya
adalah ahmat alija teman sebangku dikelas saya menyelimuti hari-hari saya, Tiap hari
saya bangun pagi dan menyiapkan perbekalan saya untuk cari kerjaan yg
menghasilkan uang. Terkadang hujan deras dan mendinginkan tubuhku ini,
terkadang panas matahari menyengat kulit saya sampai kulit menghitam..
Sinar matahari bergegas menutup sinarnya di ujung barat, kini
saya bergegas pulang menyusuri perumahan yang taman-taman yang indah. Malam
hari di rumah saya, kutatapi langit malam yang di bungkus dengan ribuan bintang
yang menempel di sudut langit yang indah.
hampir tiga bulan sudah saya berkelana bersama motor kesayangan , apakah pernah terlintas dibayanganmu sampai kapan saya harus beginitetesan air mata saya mengalir bagaikan air hujan, nafasku bagaikan hembusan angin)
hampir tiga bulan sudah saya berkelana bersama motor kesayangan , apakah pernah terlintas dibayanganmu sampai kapan saya harus beginitetesan air mata saya mengalir bagaikan air hujan, nafasku bagaikan hembusan angin)
Kurakitkan impian-impian yang indah dalam tidur saya, malam yang
sunyi. Suara kodok berbunyi di sebelah rumahku, menjaga tidurku yang terlelap
dari kelelahan akan pekerjaan saya sebagai tukang service komputer.
biasanya, tiap menjelang pagi saya brosing mencari warnet yg membutuhkan tenisi setelah itu saya siap-siap untuk menyusuri perumahan. Berbekal nasi putih, berlauk tahu dan sambel yang terbungkus rapat di tempat makan yang menempel erat dipundakku.
sang fajar pun dengan cepat begerak meninggalkanku, tentu disambut hangat oleh matahari siang hari, aura akan panasnya bagaikan merobek kulitku. Seketika saya rebahkan tubuh ini dibawah pohon yang tegak berdiri di sebelah rumput-rumput ditaman yang indah. saya elus-eluskan handuk kemukaku sambil kudendangkan suara burung-burung yang berkicau. walaupun tubuhku ini cuman di hiasi kain biasa dengan kerangka yang di lapisi kulit yang mulai menghitam, jatuh juga butiran-butiran air mata. Suara sapa yang begitu lembut menyentuh gendang telingaku,
merdunya suara itu seakan-akan saya dibelai dalam alam mimpi. Kini kuberdiri mencari sumber suara itu, siapakah gerangan yang menyapaku, bola mataku kupermainkan menatap seluruh sudut taman indah itu. matahari mau tenggelam dan saya bergegas pulang kerumah takut ibu mencari saya..itulah cerita perjalanan Hidup anak remaja yang tidak mau meminta uang lagi ke orang tua .
biasanya, tiap menjelang pagi saya brosing mencari warnet yg membutuhkan tenisi setelah itu saya siap-siap untuk menyusuri perumahan. Berbekal nasi putih, berlauk tahu dan sambel yang terbungkus rapat di tempat makan yang menempel erat dipundakku.
sang fajar pun dengan cepat begerak meninggalkanku, tentu disambut hangat oleh matahari siang hari, aura akan panasnya bagaikan merobek kulitku. Seketika saya rebahkan tubuh ini dibawah pohon yang tegak berdiri di sebelah rumput-rumput ditaman yang indah. saya elus-eluskan handuk kemukaku sambil kudendangkan suara burung-burung yang berkicau. walaupun tubuhku ini cuman di hiasi kain biasa dengan kerangka yang di lapisi kulit yang mulai menghitam, jatuh juga butiran-butiran air mata. Suara sapa yang begitu lembut menyentuh gendang telingaku,
merdunya suara itu seakan-akan saya dibelai dalam alam mimpi. Kini kuberdiri mencari sumber suara itu, siapakah gerangan yang menyapaku, bola mataku kupermainkan menatap seluruh sudut taman indah itu. matahari mau tenggelam dan saya bergegas pulang kerumah takut ibu mencari saya..itulah cerita perjalanan Hidup anak remaja yang tidak mau meminta uang lagi ke orang tua .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar